REFLEKSI KEBIJAKAN TERKAIT TEKNOLOGI DISEKTOR PANGAN UNTUK PENCAPAIAN KEMANDIRIAN PANGAN DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
REFLEKSI
KEBIJAKAN TERKAIT TEKNOLOGI DISEKTOR PANGAN UNTUK PENCAPAIAN KEMANDIRIAN PANGAN
DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
Oleh:
Muhammad
Ruslan Afandy
“...
what is not disseminated and used is not an innovation.” Bermakna
bahwa tidak ada gunanya teknologi yang hebat jika tidak bermanfaat dan
teknologi yang tidak bermanfaat bukanlah sebuah inovasi...” (The World Bank
(2010)
Pangan merupakan kebutuhan paling
asasi bagi setiap manusia, sehingga persoalan tentang pangan tidak hanya
merupakan persoalan yang sangat mendasar dan universal, tetapi juga dapat
dilihat dari berbagai perspektif. Saat ini, pangan tak lagi hanya sebagai bahan
yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan manusia melalui
serangkaian proses fisiologis. Jenis pangan yang dikonsumsi sekarang sering
diasosiasikan dengan status sosial ekonomi masyarakat. Pangan juga tidak jarang
dijadikan sebagai
komoditas politik, karena isu pangan akan selalu
menyangkut hajat hidup orang banyak.
Sebagai ilustrasi kompleksitas dimensional
persoalan pangan, walaupun dari perspektif gizi, tepung yang dibuat dari
berbagai jenis hasil tanaman (beras, ubi jalar, singkong, buah sukun, sagu,
atau hasil tanaman yang kaya pati lainnya) tak banyak berbeda, namun bagi
masyarakat umum berbagai sumber karbohidrat tersebut tetap secara kentara
dipersepsikan berbeda. Bagi masyarakat Indonesia, beras merupakan sumber
karbohidrat yang secara sosial-ekonomi lebih patut; sedangkan ubi, singkong,
sagu, dan sukun diposisikan sebagai sumber karbohidrat yang status sosialnya
lebih rendah (baca: makanan orang miskin). Alternatif sumber karbohidrat yang
diterima masyarakat Indonesia secara luas adalah gandum dan kentang, karena
jenis sumber karbohidrat ini diasosiasikan dengan pangan masyarakat maju,
diimpor dari negara maju. Ironisnya, lahan yang cocok untuk budidaya gandum
atau kentang di Indonesia sangat terbatas. Klasifikasi pangan pokok yang
diasosiasikan dengan status sosial ekonomi ini sesungguhnya yang menjadi
ganjalan program diversifikasi pangan di Indonesia.