Penerapan DigCultOr (Digital Creative Cultural Ambassador) : Solusi Inovatif bagi Pemuda dalam Melestarikan Kebudayaan Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0


Penerapan DigCultOr (Digital Creative Cultural Ambassador) : Solusi Inovatif bagi Pemuda dalam Melestarikan Kebudayaan Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0

Oleh:
Muhammad Ruslan Afandi
(Universitas Nasional Jakarta)

Memahami dan mengetahui arti budaya yang membentuk kebudayaan suatu bangsa merupakan langkah awal mencintai suatu budaya. Indonesia sebagai negara yang memiliki beragam corak kebudayaan yang berbeda dari sabang sampai merauke, keberagaman corak budaya merupakan suatu kebanggaan tersendiri yang patut dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda sehingga keberadaannya bisa dipertahankan. Jangan sampai kebudayaan Indonesia, justru diakui oleh negara lain hanya karena ketidaktahuan dan ketidakpedulian pada warisan budaya Indonesia.
Berbagai cara sudah ditempuh untuk mensosialisasikan kebudayaan nusantara dalam media konvensional seperti majalah, buku dan bahkan artikel. Mewariskan dan menurunkan adat istiadat budaya ke generasi muda sangat penting karena mereka yang akan menyampaikan ke generasi berikutnya. Lalu timbul pertanyaan apakah yang akan terjadi jika suatu hari kebudayaan kita musnah? Kebudayaan yang beraneka ragam hilang begitu saja dari bumi pertiwi? Sehingga menjadi bangsa yang tidak beridentitas, tanpa jati diri padahal Indonesia merupakan negara yang memiliki berbagai ragam seni dan budaya.
Dalam melestarikan budaya, peran serta masyarakat sudah sepatutnya dikembangkan dan tidak hanya mengandalkan pemerintah. Pemuda Indonesia yang masih sadar dan paham akan kebudayaan yang kaya sudah seharusnya melakukan berbagai usaha untuk melestarikan dan mengembangkan budaya Indonesia. Generasi di Era Revolusi Industri 4.0 hidup dalam kelimpahan dunia teknologi media digital.
Peranan media digital di Era Revolusi Industri 4.0 dalam menyebarkan kebudayaan Indonesia ini sangat penting untuk saat ini. Perputaran informasi yang cepat menyebabkan penyebaran informasi menjadi mudah untuk diakses terutama kaum muda yang menghabiskan waktu dan minat mereka di bidang media ini. Media digital yang dimaksud adalah internet, blog, jejaring sosial. Saat ini pertumbuhan media digital yang begitu cepat dan mudah, memberikan kesempatan akses yang sama bagi semua orang di seluruh belahan dunia.
Peluang Pemuda Indonesia dalam melestarikan Kebudayaan di Era Revolusi Industri 4.0
Dari sudut pandang kesadaran budaya masyarakat Indonesia, dengan adanya Era Revolusi Industri 4.0, membuat masyarakat Indonesia berubah, terlebih kepada rasa memiliki, rasa mencintai, dan rasa untuk melestarikan kebudayaan Indonesia yang mulai memudar. Ketika budaya Indonesia sudah “diklaim oleh negara lain”, baru masyarakat Indonesia timbul rasa memiliki, rasa mencintai, dan rasa untuk melestarikan kebudayaan. Klaim atas kebudayaan Indonesia diperkuat dengan data dari UNESCO menyebutkan bahwa tercatat 33 budaya Indonesia telah diklaim negara asing, yang terbanyak adalah Malaysia dengan 21 klaim budaya. (www.change.org). Kasus klaim budaya Indonesia, hendaknya diperhatikan secara seksama terlebih kepada para pemuda Indonesia.
Lalu, bagaimana peluang peran pemuda dalam melakukan promosi dan pelestarian budaya Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0 serta bagaimana trennya di masa depan? Di Indonesia, pemuda diartikan suatu kaum yang berperan sebagai pencipta dan konsumen budaya yang menekankan pada asumsi biologis dan psikososial terhadap perkembangannya. (Azca Najib. 2011). Sedangkan pemuda menurut Undang-Undang No.40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan adalah mereka yang berada pada usia produktif yaitu dari usia 16 tahun sampai dengan 30 tahun.
Data menyatakan bahwa pada tahun 2045, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi yaitu jumlah penduduk Indonesia 70%-nya dalam usia produktif (15-64 tahun), sedangkan sisanya 30% merupakan penduduk yang tidak produktif (usia dibawah 14 tahun dan diatas 65 tahun) pada periode tahun 2020-2045. (www.goodnewsfromindonesia.id). Dari data tersebut, dapat diketahui bahwa betapa besarnya potensi pemuda Indonesia dalam mengatasi permasalahan kebudayaan yang ada di Indonesia.
Selain itu potensi pemuda Indonesia dalam melestarikan kebudayaan di Era Revolusi Industri 4.0 dapat diketahui berdasarkan data dari internetworldstas.com, menyatakan bahwa Indonesia mempunyai 30 juta pengguna internet pada September 2015, dengan 12,5 % persentase penetrasi. Tidak hanya itu berdasarkan data dari Asosiasi perusahaan iklan di Asia Tenggara merilis beberapa data menarik yang menyatakan bahwa, pada tahun 2017 lebih dari 75 juta masyarakat Indonesia telah memiliki akses ke internet dan hampir 72 persen penggunanya adalah “usia produktif yang termasuk didalamnya adalah pemuda Indonesia”, yang semuanya adalah aktif pengguna social media, dimana jejaring yang paling sering digunakan adalah twitter dan facebook. Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa betapa besarnya potensi pemuda Indonesia dalam mengatasi permasalahan kebudayaan yang ada di Indonesia.

Penerapan DigCultOr ( Digital Creative Cultural Ambassador ) bagi Pemuda Indonesia dalam Melestarikan Kebudayaan Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0
Pada dasarnya menolak Era Revolusi Industri 4.0 bukanlah pilihan tepat, karena itu berarti menghambat kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya. Oleh karena itu harus ada upaya dari pemuda Indonesia untuk menjadikan media digital sebagai alat untuk melestarikan dan mempromosikan potensi kekayaan budaya Indonesia ke seluruh dunia. Jika ini bisa dilakukan, maka daya tarik budaya Indonesia akan semakin tinggi sehingga dapat berpengaruh pada daya tarik lainnya, termasuk ekonomi dan investasi. Oleh karena itu dalam penulisan esai ini penulis mengusulkan suatu ide atau solusi untuk memaksimalkan peran pemuda Indonesia dalam meningkatkan daya tahan kebudayaan Indonesia ditengah gempuran arus Era Revolusi Industri 4.0, yaitu penerapan DigCultOr (Digital Creative Cultural Ambassador).

DigCultOr (Digital Creative Cultural Ambassador) adalah suatu ide kekinian di Era Revolusi Industri 4.0 yang dibentuk dengan tujuan para pemuda Indonesia dapat memanfaatkan Era Revolusi Industri 4.0 ini untuk mempromosikan potensi kekayaan budaya yang ada di Indonesia agar lebih dikenal oleh khalayak luas sekaligus sarana pengembangan potensi bakat, kreativitas, kecerdasan para generasi muda untuk menjadi figur yang dapat berperan dalam mempromosikan kekayaan seni, budaya dan pariwisata. Penerapan DigCultOr (Digital Creative Cultural Ambassador) pada dasarnya adalah dimana pemuda memanfaatkan akses kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sebagai alat pelestari dan pengembang nilai-nilai budaya Indonesia. Sehingga Budaya khas Indonesia dapat menjadi suatu produk yang memiliki nilai tambah tinggi apabila disesuaikan dengan perkembangan media komunikasi dan informasi. Namun dalam penerapannya dipersyaratkan agar pemuda Indonesia terlebih dahulu memiliki counter culture, yaitu semacam usaha dari pemuda Indonesia untuk menangkal efek dari media luar.
Penerapan DigCultOr (Digital Creative Cultural Ambassador), akan membuat pemuda Indonesia akan berperan langsung dalam kegiatan komunikasi budaya secara digital terkait dengan pengembangan dan pelestarian budaya, termasuk fungsi advokasi, menjadi edukator sekaligus fasilitator kelompok masyarakat ataupun mengadakan kegiatan-kegiatan kebudayaan secara digital sesuai dengan fungsi dari komunikasi budaya yang menginginkan adanya tahapan perubahan pengetahuan budaya (cultural knowledge). Melalui DigCultOr (Digital Creative Cultural Ambassador) pemuda akan dijadikan duta promosi kebudayaan (ambassador) menjadi promotor pariwisata dan budaya secara digital yaitu melalui website, blog, mobile applications, mobile game, social media (facebook, whatsup, twiter, instagram, dan lainya), yang bertujuan memberikan informasi dan membentuk citra kebudayaan yang positif dimata masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia.
Berdasarkan pemaparan tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa solusi bagi pemuda Indonesia dalam menghadapi Era Revolusi Industri.4.0 adalah melalui  penerapan DigCultOr (Digital Creative Cultural Ambassador) yang diharapkan dapat merubahan sikap pemuda dalam pasif behavior menjadi aktive behavior terhadap kebudayaan Indonesia, karena setelah berperan dalam setiap tugasnya agent of DigCultOr (Digital Creative Cultural Ambassador) akan mampu menunjukkan adanya kecenderungan terhadap sebuah pengetahuan budaya (cultural knowledge) dari pemuda Indonesia yang akan menumbuhkan rasa brand awardness terhadap kebudayaan di Indonesia. Selain itu diharapkan dengan penerapan DigCultOr (Digital Creative Cultural Ambassador) dalam menghadapi Era Revolusi Industri.4.0, akan membuat para pemuda Indonesia sebagai ikon yang mencerminkan muda-mudi Indonesia yang dapat turut aktif secara digital mengembangkan kebudayaan dan menjaga kebudayaan, mengkampanyekan aksi-aksi yang positif untuk budaya Indonesia, serta menebarkan semangat untuk mewujudkan sapta pesona budaya Indonesia di Era Revolusi Industri.4.0.

Postingan Populer