PAPIH (Pemuda Anti Politik Hoax): Aktualisasi Peran Pemuda dalam Menangkal Penyebaran Berita Politik bermuatan Hoax Menuju Indonesia Pocer (Politik Cerdas) 2019 Oleh: Muhammad Ruslan Afandi
PAPIH (Pemuda
Anti Politik Hoax): Aktualisasi Peran Pemuda dalam Menangkal Penyebaran
Berita Politik bermuatan Hoax Menuju Indonesia Pocer (Politik Cerdas)
2019
Oleh:
Muhammad Ruslan
Afandi
(Mahasiswa
Fakultas Hukum Universitas Nasional)
Link Blog
Penerbitan:
https://muhruslanafandysite.blogspot.com/2019/02/papih-pemuda-anti-politik-hoax.html
Menjelang
pesta demokrasi tahun 2019, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa dunia
perpolitikan Indonesia akan dihantui dengan penyakit sosial yaitu “penyebaran
berita hoax bermuatan politik”. Hal ini terbukti berdasarkan data dari Masyarakatt
Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) mencatat bahwa
terdapat 230 hoax yang terklarifikasi sebagai disinformasi selama
periode Juli-September 2018. Rinciannya, hoaks pada Juli 2018 sebanyak
65 konten, Agustus 2018 sebanyak 79 konten, dan meningkat menjadi 107 konten
pada September 2018. Dimana data tersebut didominasi bermuatan isu politik
yang mencapai 135 buah atau 58,7%. Sisanya, 7,39% bermuatan agama, 7,39%
penipuan, 6,69% lalu lintas, dan 5,2% kesehatan. (https://katadata.co.id).
Penyebaran
berita hoax bermuatan politik tersebut dilakukan
dalam bentuk seperti saling menjatuhkan,
menghina, memaki, bahkan saling menyakiti, saling mendeskriminasi satu sama lain hanya lantaran
ketidaksepahaman terhadap sebuah postingan berita maupun informasi tertentu
yang bahkan sebenarnya belum jelas asal sumbernya yang akhirnya berujung pada ancaman terhadap keutuhan Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI).
Menyikapi fenomena tersebut, para pemuda Indonesia dituntut untuk berperan aktif dalam menangkal penyebaran berita hoax bermuatan politik. Sebagai pemuda yang tentunya
dibekali dengan kecerdasan intelektual dan kedewasaan dalam berpikir, sudah
sepatutnya kita menempatkan diri kita sebagai bagian kelompok masyarakat yang
menjadi filterisasi utama untuk
menyelamatkan masyarakat kita dari berbagai penyebaran berita hoax bermuatan politik. Bukan malah terjerumus dalam “adu domba politik” dari pihak-pihak yang tidak bertanggugjawab. Oleh karena itu penulis menggagas suatu solusi yaitu PAPIH
(Pemuda Anti Politik Hoax) sebagai bentuk aktualisasi peran pemuda dalam
penyebaran berita politik bermuatan hoax menuju Indonesia Pocer (Politik
Cerdas) 2019.
Penerapan PAPIH (Pemuda Anti Politik Hoax)
Semangat pemuda yang
melek perpolitikan tampaknya harus dipupuk dan dibangkitkan di Era Digital
seperti sekarang, para pemuda harus memilki peran yang signifikan dalam dunia
perpolitikan di Indonesia tidak hanya turut serta dalam pemilih ketika
pemilihan umum, tidak hanya tidak terhasut politik uang yang dilakukan sejumlah
partai politik, dan tidak hanya berani menentukan pilihan serta menjadi pemain
langsung dalam perpolitikan. Tetapi lebih dari itu pemuda saat ini di Era
Digital adalah “mengawal dan turut mengawasi perpolitikan di Indonesia” dengan
tentunya memanfaatkan “digitalize” sebagai medianya. Hal ini karena di Era
Digital saat ini pemuda telah dimanjakan dengan perkembangan teknologi internet yang segala informasi dan komunikasi dapat dengan mudah dilakukan tanpa dibatasi
ruang dan waktu.
Mengapa Pemuda yang melakukannya?
Pemuda dan politik
merupakan dua hal tidak dapat pisahkan. Melalui pemikirannya yang kritis dan idealis
serta berani untuk mengungkapkan pendapat menunjukkan bahwa Pemuda menjadi
ujung tombak dalam melaksanakan perubahan bangsa ini. Jika kita melihat sejarah
perpolitikan di Indonesia, pemuda berhasil menggulingkan kekuasaan Soeharto sebagai
Presiden saat itu, hal ini menunjukan bahwa pemuda menjadi perantara antara
pemerintah dengan rakyat, terlebih ketika bangsa Indonesia mengalami kejenuhan
dalam dunia perpolitikan
Potensi pemuda dalam menerapkan
PAPIH (Pemuda Anti Politik Hoax) ini
juga didasarkan pada data yang
menyatakan bahwa jumlah pemuda Indonesia yang mencapai 61,8 juta orang, atau 24,5% dari total
252 juta orang penduduk Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2014) juga diikuti
dengan semakin banyaknya organisasi-organisasi kepemudaan. Selain itu data menyatakan bahwa pada tahun 2045,
Indonesia akan mendapatkan bonus demografi yaitu jumlah penduduk Indonesia 70%-nya
dalam usia produktif (15-64 tahun). (www.goodnewsfromindonesia.id). Dari data tersebut, dapat diketahui
bahwa betapa besarnya potensi pemuda Indonesia dalam mengatasi permasalahan
yang ada di Indonesia terkhusus pada dunia politik yaitu dengan menerapkan PAPIH (Pemuda Anti Politik Hoax)
dimana pemuda Indonesia aktif mengampanyekan gerakan anti
politik hoax.
Mengapa harus berbasis digital?
Penerapan PAPIH (Pemuda Anti Politik
Hoax) menjadi salah satu solusi yang penulis tawarkan penulis dimana pemuda
aktif melakukan filterisasi penyebaran berita hoax bermuatan politik melalui “akun digital” yang
mereka (pemuda) miliki seperti website, blog, mobile applications, mobile game, social
media (facebook, whatsapp,
twiter, instagram, dan lainya). Sehingga diharapkan melalui “akun digital” para pemuda dapat memberikan
informasi dan membentuk citra politik yang positif dimata masyarakat Indonesia
dan masyarakat dunia.
Penggunaan
media digital dalam menerapkan PAPIH (Pemuda Anti Politik Hoax), hal ini berdasarkan
data dari Masyarakat Anti Fitnah
Indonesia (Mafindo)
yang mencatat bahwa sarana yang paling banyak digunakan untuk menyusun hoaks
itu, yakni media digital dengan komposisi presentasi narasi dan foto
(50,43%), narasi (26,96%), narasi dan video (14,78%), dan foto (4,35%). Dari
jumlah tersebut, hoaks paling banyak disebarkan di Facebook (47,83%), Twitter
(12,17%), Whatsapp (11,74%), dan Youtube (7,83%).
Selain itu proses filterisasi politik hoax melalui penerapan
PAPIH (Pemuda Anti Politik Hoax) juga dapat pemuda Indonesia
lakukan dengan
aktif melakukan kampanye digital anti politik hoax di berbagai
kegiatan kampus. Bentuk kampanye digital anti politik hoax tersebut dapat dilakukan
dengan berbagai cara mulai dari pelaksanaan sharing, diskusi
maupun seminar yang mengangkat topik tentang politik hoax,
sosialisasi tentang etika yang harus diperhatikan saat menggunakan hak politik,
pembuatan video dokumenter bertema anti politik hoax, serta melaksanakan lomba digital kreatif
sebagai langkah persuasif memunculkan kepedulian tentang maraknya isu politik hoax ini.
Besar keyakinan penulis bahwa dalam rangka memasuki
pesta demokrasi tahun 2019, melalui penerapan PAPIH
(Pemuda Anti Politik Hoax), pemuda Indonesia dapat “mengawal
dan turut mengawasi perpolitikan di Indonesia” dengan tentunya memanfaatkan
“digitalize” sebagai medianya. Sehingga pemuda dapat melakukan filterisasi utama untuk menyelamatkan
masyarakat kita dari berbagai penyebaran berita hoax bermuatan politik, dengan
demikian harapan Indonesia politik cerdas (pocer) di tahun 2019 mendatang bisa
tercapai.
Sumber Referensi:
https://katadata.co.id/(Diakses
Pada Tanggal 14 Februari 2019, Pukul 16.32 WIB)
https://www.goodnewsfromindonesia.id/(Diakses
Pada Tanggal 14 Februari 2019, Pukul 09.12 WIB)
https://www.internetworldstas.com/(Diakses
Pada Tanggal 14 Februari 2019, Pukul 20.30 WIB)
LINK BLOG PENERBITAN
https://muhruslanafandysite.blogspot.com/2019/02/papih-pemuda-anti-politik-hoax.html