BUDAYA DIGITAL : IMPLEMENTASI BUDAYA ZAMAN NOW


BUDAYA DIGITAL : IMPLEMENTASI BUDAYA ZAMAN NOW
Oleh:
Muhammad Ruslan Afandi
(Universitas Nasional Jakarta)
Memahami dan mengetahui arti budaya yang membentuk kebudayaan suatu bangsa merupakan langkah awal mencintai suatu budaya. Indonesia sebagai negara yang memiliki beragam corak kebudayaan yang berbeda dari sabang sampai merauke, keberagaman corak budaya merupakan suatu kebanggaan tersendiri yang patut dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda sehingga keberadaannya bisa dipertahankan. Jangan sampai kebudayaan Indonesia, justru diakui oleh negara lain hanya karena ketidaktahuan dan ketidakpedulian pada warisan budaya Indonesia.
Berbagai cara sudah ditempuh untuk mensosialisasikan kebudayaan nusantara dalam media konvensional seperti majalah, buku dan bahkan artikel. Mewariskan dan menurunkan adat istiadat budaya ke generasi muda sangat penting karena mereka yang akan menyampaikan ke generasi berikutnya. Lalu timbul pertanyaan apakah yang akan terjadi jika suatu hari kebudayaan kita musnah? Kebudayaan yang beraneka ragam hilang begitu saja dari bumi pertiwi? Sehingga menjadi bangsa yang tidak beridentitas, tanpa jati diri padalah Indonesia merupakan negara yang memiliki berbagai ragam seni dan budaya.
Dalam melestarikan budaya, peran serta masyarakat sudah sepatutnya dikembangkan dan tidak hanya mengandalkan pemerintah. Generasi muda yang masih sadar dan paham akan kebudayaan yang kaya sudah seharusnya melakukan berbagai usaha untuk mewarisi ke generasi penerus. Generasi yang telah hidup dalam kelimpahan dunia teknologi media digital merupakan sasaran pewarisan berikutnya. Jadi alangkah baiknya jika langkah besar mulai diambil untuk lebih fokus dalam penyebaran budaya serta mewariskannya sejalan perkembangan zaman dan tentu saja tanpa menghilangkan identitas bangsa.
Peranan media digital dalam menyebarkan kebudayaan Indonesia ini sangat penting untuk saat ini. Perputaran informasi yang cepat menyebabkan penyebaran informasi menjadi mudah untuk diakses terutama kaum muda yang menghabiskan waktu dan minat mereka di bidang media ini. Media digital yang dimaksud adalah internet, blog, jejaring sosial. Saat ini pertumbuhan media digital yang begitu cepat dan mudah, memberikan kesempatan akses yang sama bagi semua orang di seluruh belahan dunia. Pertumbuhan media digital di Indonesia dapat dilihat dari penggunaan internet yang meningkat dari berbagai kalangan.  Lalu, bagaimana peluang dan tantangan budaya digital di Indonesia serta bagaimana trennya di masa depan?
Menurut internetworldstas.com, Indonesia mempunyai 30 juta pengguna internet pada September 2017, dengan 12,5 % persentase penetrasi. Selain dapat dilihat dari penggunaan internet, peningkatan penggunaan media digital juga dapat dilihat dari aktivitas online. Jejaring sosial merupakan media yang paling sering digunakan seperti twitter dan facebook.
Selain itu Chairman Internet Data Center, Johar Alam Rangkuti, Indonesia kini memiliki penetrasi internet 22 persen atau 55 juta pengguna. "Jumlah pengguna internet di Indonesia kini menempati urutan ke-8, sedangkan pengguna sosial media ada di urutan ke-4" (Movementi, 2013). Penggunaan media digital semakin dipermudah dengan teknologi mobile yang diusung oleh berbagai brand terkemuka di dunia. Jika pengaruh media sosial dan teknologi modern bisa diaplikasikan sedemikian rupa untuk kebutuhan bisnis, tentu saja hal ini bisa dipertimbangkan dan dikaji untuk menyebarkan kebudayaan Indonesia melalui media digital.
Tidak hanya itu berdasarkan data dari Asosiasi perusahaan iklan di Asia Tenggara merilis beberapa data menarik yang mengilustrasikan dengan jelas besarnya pengaruh teknologi informasi di Indonesia. Setidaknya, sejak 2014 jumlah telepon genggam telah melampaui jumlah penduduk di Indonesia. Pada 2015 lebih dari 75 juta masyarakat Indonesia telah memiliki akses ke internet dan hampir semuanya adalah aktif pengguna media sosial. Jumlah pengguna media sosial ini bertambah hampir 20 persen dari tahun sebelumnya dengan rata-rata waktu akses 2,4 jam per hari.
Saat ini media digital sudah diadaptasi dalam kurikulum di perguruan tinggi dengan program studi yang bervariasi. Website, mobile applications, mobile game dan lain sebagainya bisa dijadikan dasar pendekatan untuk menyebarkan kebudayaan Indonesia melalui jaringan internet dengan penekanan penyebarannya melalui blog maupun social media. Walau tidak banyak, namun beberapa instasi pemerintah sudah mulai menggunakan website untuk mempromosikan kebudayaan Indonesia. Ada yang menggunakan untuk promosi pariwisata, ada yang menggunakannya untuk mengenalkan kebudayaan setempat ke dunia.
Budaya digital menjadi topik hangat untuk didiskusikan, mengingat dampaknya yang semakin kuat dan luas dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tentu saja, penetrasi teknologi digital ke hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia tidak berhenti hanya di seputar media sosial. Seiring dengan peningkatan penetrasi jaringan internet, nilai perdagangan online di Indonesia tahun ini diperkirakan meningkat tajam.
Di era digital, penyebaran informasi telah beralih dari sistem konvensional distribusi-sirkulasi media masa ke model participatory. Masyarakat tidak lagi hanya berperan sebagai konsumen yang pasif, tapi sebagai aktor yang ikut berperan aktif dalam membentuk, menyebarkan, bahkan mentransformasi berbagai informasi. Proses ini pun berjalan dengan sangat cepat tanpa kendala batasan geografis. Namun, perubahan ini menjadi salah satu titik pangkal berbagai masalah yang timbul dan menyebabkan keresahan dalam masyarakat akhir-akhir ini. Diskusi yang tak logis beraroma kebencian semakin jamak kita temukan di dunia maya. Tidak sedikit pengguna internet berkomentar dan mengeluarkan pendapat hanya berdasarkan judul sebuah artikel. Sebagian lagi begitu mudah memercayai sebuah informasi yang berasal dari situs-situs tak bertanggung jawab yang sama sekali tidak mengindahkan kaidah dan aturan jurnalisme.
Potensi masalah budaya digital ini lebih dari apa yang terlihat secara kasat mata. Saat ini, kita berada pada era 'Big Data' (BD), sebuah masa yang ditandai dengan besar dan cepatnya arus informasi mengalir. Cepat atau lambat isu privasi, etika, dan regulasi akibat penggunaan sistem 'Big Data' (BD) ini akan melahirkan masalah-masalah baru yang harus segera diantisipasi bersama. Tidak hanya seputar privasi, sistem 'Big Data' (BD) bahkan memiliki potensi kuat untuk mengontrol sentimen masyarakat. Pada akhir 2014 Forbes pernah melaporkan percobaan yang dilakukan Facebook terhadap penggunanya. Facebook mampu mengubah emosi pengguna hanya dengan mengubah bagaimana informasi disajikan dalam aplikasi mereka.

Selain 'Big Data' (BD), beberapa potensi teknologi yang akan semakin berkembang di masa depan, di antaranya,  merebaknya penggunaan Internet of Things (IoT), seperti dalam smart homes atau dalam fungsi pengawasan/monitoring, semakin jamaknya perangkat virtual dan augmented reality (VR-AR) dalam memperkaya pengalaman digital, peningkatan perdagangan online, dan semakin meluasnya aplikasi kecerdasan buatan dalam kehidupan sehari-hari. Di masa depan, industri-industri besar juga akan mendapat tantangan baru dari industri kecil atau menengah yang mengutamakan inovasi dan kreativitas. 
Perlu dipahami bahwa Indonesia saat ini sangat terbuka dengan dunia media digital, kemudahan akses yang diimbangi oleh perkembangan teknologi. Pertumbuhan media digital bahkan mempengaruhi berbagai aspek dalam kehidupan baik dari sisi pengguna atau masyarakat juga untuk kegunaan bisnis maupun organisasi non profit. Kebudayaan ada karena budaya yang gagasan, ide atau pemikiran yang dikembangkan oleh manusia hadir untuk menguatkan ciri khas atau kebudayaan suatu kelompok masyarakat. Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari berbagai macam suku, bahasa, budaya, dan adat istiadat. Jika kita tidak mewariskan ke generasi penerus, hambatan budaya akan berkembang dan hal itu akan menjadi boomerang buat kita.
Oleh karena itu untuk menyikapi “budaya digital” sudah saatnya kita mengkaji dan menganalisis unsur kebudayaan dari luar, problematika atau hambatan budaya yang membombardir kebudayaan Indonesia, peran serta masyarakat sudah sepatutnya dikembangkan dan tidak hanya mengandalkan pemerintah. Generasi muda yang masih sadar dan paham akan kebudayaan yang kaya sudah seharusnya melakukan berbagai usaha. Salah satunya adalah menggunakan pendekatan yang dipahami dan diterima oleh generasi muda saat ini, yaitu teknologi modern dengan media digital. Semoga dengan penulisan esai ini, pelestarian budaya Indonesia akan berkembang tidak hanya melalui media konvesional tetapi juga melalui media digital terbaru sebagai sarana mempromosikan aset kebudayaan Indonesia.
Sumber Data:
https://www.internetworldstas.com/ (Diakses Pada Tanggal 15 Desember 2018, Pukul 16.32 WIB)

Postingan Populer