Reaktualisasi Peran Pemuda Indonesia dalam Menghadapi Tantangan dan Persaingan Di Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015



Reaktualisasi Peran Pemuda Indonesia dalam Menghadapi Tantangan dan Persaingan Di Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015
Oleh:
Muh Ruslan Afandy
(Mahasiswa Fakultas Hukum UNHAS Makassar)

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), kalimat ini begitu tak asing lagi di telinga kita. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dibentuk untuk merealisasikan integrasi ekonomi di kawasan Asia Tenggara, dimana MEA ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing dengan mengubah kelompok ekonomi menjadi pasar bebas dan basis produksi tunggal. Ada 5 (lima) hal dasar tujuan yang akan diimplementasikan dalam pasar terbuka MEA yaitu arus bebas barang, arus bebas jasa, arus bebas investasi,  arus bebas modal dan arus bebas tenaga kerja yang terampil.[1]  Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah sebuah peluang yang juga merupakan tantangan. Negeri ini harus segera berbenah dan tak layak tinggal diam. Indonesia memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan demi upaya memanfaatkan keterbukaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dengan terbentuknya pasar tunggal yang bebas tersebut, hanya ada dua kemungkinan yang bisa terjadi terhadap posisi Indonesia dalam perekonomian ASEAN. Posisi itu, yakni menjadi pemain utama atau hanya duduk sebagai penonton. Pasar ASEAN yang sangat besar dan akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan menjadi suatu peluang yang seharusnya bisa dimanfaatkan industri dalam negeri. Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan berlangsung mulai 31 Desember 2015 mendatang dan saat ini Indonesia harus benar-benar mempersiapkan diri untuk menghadapi periode tersebut seperti yang tercermin pada slogan 3P (Prepare, Perfect, Performance), kalau peluang ini tidak segera dimanfaatkan, kita akan tertinggal. Jangan sampai nantinya kita hanya terkesima melihat stabilitas lalu-lalang sumber daya asing di negeri ini, lalu perlahan terlena dan melupakan tujuan terciptanya masyarakat yang makmur dan sejahtera.
Menurut, World Economic Forum dalam laporan The Global Competitiveness Report tahun 2013-2014, menempatkan Indonesia di peringkat ke-38 dari 148 negara. Bahkan berdasarkan daya saing, logistik, dan produktivitas tenaga kerja selama tahun 2013-2014, posisi Indonesia dibanding negara ASEAN lainnya mulai mengkhawatirkan, yakni berada di bawah Singapura, Malaysia dan Thailand.[2] Dari data tersebut, tentunya hal ini merupakan tugas yang sangat berat bagi pemerintah untuk dapatmemenangkan persaingan dalam MEA 2015. Daya saing yang rendah memperlihatkan produktivitas rendah, meskipun APBN sudah menembus Rp 1.800 triliun, pasar ekonomi Indonesia yang besar, kelas menengah yang semakin bertambah dan PDB per kapita yang mendekati USD 5.000[3] memang mengindikasikan daya beli masyarakat kita sudah cukup tinggi. Tingginya daya beli ini akan menjadi bumerang bagi ”neraca ekonomi” kita bila daya saing dan kesiapan infrastruktur kita tidak segera dibenahi dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 ini.
Di sisi lain, negeri ini memiliki bonus demografi dengan komposisi usia pemuda produktif, yang akan memberikan efek dahsyat bagi kemajuan ekonomi. Pemuda dianggap memiliki peran yang strategis dalam peningkatan daya saing global karena mereka adalah sosok individu yang mempunyai jiwa optimis, berpikir maju, dan berintelektual. Bung Karno berkata “berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan aku guncangkan dunia”.  Kalimat tersebut seolah menjadi tolak ukur bahwa bangsa yang besar berada di tangan pemudanya. Pemuda adalah mereka yang berusia 18 hingga 35 tahun. Dimana dalam fase usia ini mereka berada dalam masa perkembangan biologis maupun psikologis. Oleh karenanya, pemuda selalu memiliki semangat yang membara dalam mengaspirasikan pendapat, inovasi dan kreatifitas-kreatifitasnya. Dengan adanya semangat yang membumbung tinggi serta inovasi dan kreatifitas-kreatifitasnya, maka sangatlah mungkin suatu bangsa akan lebih maju di tangan pemudanya

Perubahan hampir selalu diprakarsai oleh para golongan muda. Jika kita merefleksi kembali sejarah bangsa ini, tentu tak lepas dari peran pemuda. “Sumpah pemuda 28 Oktober 1928” menjadi tonggak penting berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Berkumpulnya anak-anak muda yang berjiwa revolusioner untuk menggalakkan persatuan pada masa itu, menandakan semangat yang bergerilya demi kesatuan Republik Indonesia. Melihat kondisi ini , dapat dipahami bahwa pemuda merupakan salah satu pilar bagi kebangkitan bangsa. Menurut Badan Pusat Statistik, tahun 2013 lalu jumlah pemuda mencapai 62,6 juta orang, atau rata-rata 25 persen dari proporsi jumlah penduduk secara keseluruhan.[4] Berkaca pada data tersebut, kekuatan daya saing pemuda memegang peran penting dan strategis membawa arah perjalanan bangsa, termasuk dalam menghadapi peluang MEA 2015 yang sudah di depan mata.
Pemuda dapat bertindak nyata dan menjadi faktor kebangkitan bangsa. Sayangnya, dari sejumlah indikator, daya saing pemuda belum menunjukkan potensi yang sebenarnya. Namun patut dicermati bahwa faktanya, saat ini pemuda banyak yang mengalami stagnansi dan distorsi peran mereka sebagai pemuda. Pemuda kehilangan pandangan-pandangan visioner, buta akan realitas sosial yang ada,ditambah dengan perilaku individualis, pragmatis, hedonis dan konsumtif yang menyebabkanmenurunnya citra daya saing pemuda sebagai tonggak inovasi dan kedigdayaan suatu bangsa.
Banyak pemuda kini yang mengaku peduli bangsa, namun hanya sekedar omongan belaka, bahkan merendahkan bangsa sendiri. Kritik yang disampaikan hanya berujung pada menjelekkan pemerintah, merendahkan penguasa, dan sibuk mencari kesalahan. Pemuda semakin kehilangan teladan yang intens memecahkan permasalahan kompleks di sekitar, terlebih memikirkan kemajuan bangsa. Semakin langka mereka yang terus gelisah saat melihat anak-anak jalanan kelaparan, membanggakan nama Indonesia di forum-forum internasional, dan bergerak membantu saat masih banyak orang miskin yang tidur di bawah jembatan.
Untuk itu dibutuhkan suatu reaktualisasi cara pandang pemuda yang dibawa pada sebuah langkah praktis untuk meningkatkan daya saing global. Sebagai pemuda Indonesia mari kita membangun sebuah pola pikir dan mental yang baik yang diwujudkan dalam sebuah langkah nyata yang mampu membantu menciptakan kedigdayaan bangsa ini. Dalam mereaktualisasi peran pemuda untuk menjawab tantangan global di era ASEAN Economic Community (AEC) ini, pemuda Indonesia harus memiliki hardskill dan softskill yang tinggi agar mampu bersaing tak hanya dengan warga Indonesia saja namun juga dengan warga negara asing yang berpeluang memiliki karir di Indonesia. Hardskill dan softskill merupakan dua unsur yang saling berketerkaitan satu sama lain. Dalam beberapa penelitian, hardskill dan softskill ini memiliki porsi masing-masing dalam menentukan kesuksesan seseorang. Dalam hal ini, softskill menempati porsi paling banyak yakni sekitar 80% dan sisanya 20 % adalah hardskill[5]. Hardskill yaitu hal-hal yang berhubungan dengan penguaaan ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan yang berkaitan dengan bidang keilmuan yang dipelajari. Sedangkan softskil adalah kemampuan sesorang dalam mengelola dirinya sendiri maupun orang lain. Didalam softskill ini sendiri ada beberapa hal yang dikuasai oleh pemuda diantaranya kemampuan dalam berkomunikasi, membangun kerjasama yang baik, kemampuan memotivasi, leadership skill, kemampuan berkomunikasi didepan public dan juga kemampuan dalam mengontrol dirinya sendiri, bagaimana mereka mampu bertanggung jawab atas amanah yang diemban, berlaku adil, jujur, kemampuan memecahkan masalah dan masih banyak lagi.
Dengan menguasai kedua skill tersebut pemuda akan berusaha mengembangkan diri mereka, menunjukan kinerja yang terbaik untuk menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Kaitanya dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini, generasi muda harus mampu mengembangkan potensi yang mereka miliki. Salah satu kemampuan yang harus dikembangkan adalah penguasaan dan kecakapan dalam berbahasa asing, terutama bahasa inggris yang merupakan bahasa internasional. Tak hanya kemampuan dalam berbahasa asing saja, pemuda juga dituntut untuk mampu menguasai berbagai bidang keilmuan serta pengaplikasianya kedalam kehidupan. Pemuda sebagai the Agents of Changes (agen perubahan) harus mampu membawa perubahan menuju indonesia yang lebih maju terutama dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini. Dengan semangat yang membara serta daya kreativitas  dan inovasi yang terus berkembang, maka sangat mungkin bagi Indonesia untuk siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
Komitmen pemerintah untuk mewadahi dan mengelola kaum muda agar menjadi faktor atau motor pertumbuhan daya saing melalui penegasan kecintaan terhadap tanah air, bangsa dan bahasa merupakan modal dasar untuk mempersatukan gagasan, tujuan dan perjuangan pemuda dalam mewujudkan kedaulatan, kemandirian dan kejayaan Indonesia di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Mungkin sejenak pemuda harus lebih peka. Peka pada keadaan yang masih belum sempurna. Lebih banyak membaca masa lalu melalui buku-buku, menyusun rancangan masa depan dari pembelajaran yang telah lalu. Dengan begitu, nantinya diharapkan pemuda mampu bersaing dan siap menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 serta memberikan dampak dan peran yang besar bagi kemajuan bangsa, asalkan disertai dengan sejumlah upaya persiapan yang matang di segala sektor kehidupan, demi Indonesia yang lebih baik dan bermartabat di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 mendatang.







DAFTAR PUSTAKA
Agus. 2008. Pasar Bebas Kawasan  Negara ASEAN. Harian Neraca, Jakarta : Pustaka Media.
Badan Pusat Statistik. 2013. Laporan Hasil Kajian Sumber Daya Manusia di Indonesia. Diakses dari: http://bps.go.id/tnmn_pgn.php?kat=3. [12 Oktober 2015].
Budi, Chandra . 2014. Investor Daily. Semarang : Jurnal Ekonomi Makro : Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014
Danny Afrianto. 2010. Analisis Pengaruh Pengembagan Karakter Manusia Berbasis Humaniora. Skripsi. Dipublikasikan. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro Semarang. http://eprints.undip.ac.id/22602/1/.pdf [12 Oktober2015].




[1] Agus. 2008. Pasar Bebas Kawasan  Negara ASEAN. Harian Neraca, Jakarta : Pustaka Media Hal. 6
[2] World Economic Forum dalam Budi, Chandra . 2014. Investor Daily. Semarang : Jurnal Ekonomi Makro : Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014  Hal.4
[3] Ibid.
[4] Badan Pusat Statistik. 2013. Laporan Hasil Kajian Sumber Daya Manusia di Indonesia. Diakses dari: http://bps.go.id/tnmn_pgn.php?kat=3. [12 Oktober 2015].

[5] Danny Afrianto. 2010. Analisis Pengaruh Pengembagan Karakter Manusia Berbasis Humaniora. Skripsi. Dipublikasikan. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro Semarang. http://eprints.undip.ac.id/22602/1/.pdf [12 Oktober2015].

Postingan Populer