Gerakan Mahasiswa Anti Asap Indonesia (GAMASI): Wujud Nyata Peran Serta Mahasiswa dalam Pencegahan dan Penanggulangan Kabut Asap di Indonesia
Gerakan Mahasiswa Anti Asap Indonesia (GAMASI): Wujud Nyata
Peran Serta Mahasiswa dalam Pencegahan dan Penanggulangan Kabut Asap di
Indonesia
Oleh:
Muh Ruslan Afandy
(Ilmu Hukum/
Fakultas Hukum UNHAS, 082349878761, muhruslanafandyjie@yahoo.com)
Masalah kabut asap di Indonesia merupakan salah satu permasalahan
lingkungan hidup yang belum memiliki penyelesaian jangka panjang dan cenderung
terjadi setiap tahunnya. Masalah kabut asap sudah selayaknya dikategorikan
sebagai isu lingkungan dan ekonomi, karena dampak dari kabut asap dianggap
sebagai ancaman potensial bagi pembangunan berkelanjutan karena efeknya secara
langsung bagi ekosistem dan ekonomi di Indonesia. Sumber penyebab dominan kabut
asap di Indonesia yaitu dari kebakaran hutan dan lahan. Indikasi ini terlihat
nyata sejak Indonesia mengalami kebakaran hutan dan lahan yang cukup besar,
sekitar 161.798 ha lahan pada tahun 1982. Tidak hanya itu berdasarkan Data
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) menyebutkan, indikasi areal
kebakaran hutan dan lahan-hingga 9 September 2015 di Kalimantan dan Sumatera
seluas 190.993 hektar. (LHK, 2015). Badan Nasional Penanggulangan Bencana
(BNPB) memprediksi, kerugian ekonomi akibat bencana kabut asap yang terjadi
karena kebakaran hutan dan lahan di beberapa provinsi di Indonesia pada 2015
bisa melebihi angka Rp 20 triliun. (BNPB, 2015).
Melihat
kondisi tersebut diperlukan upaya atau strategi yang baik untuk menyelesaikan
permasalahan kabut asap di Indonesia. Salah satu upaya tersebut adalah dengan
mengoptimalkan peran pemuda produktif, yang akan memberikan efek dahsyat dalam
menyelesaikan masalah kabut asap di Indonesia. Hal ini karena pemuda dianggap
memiliki peran yang strategis dalam menyelesaikan permasalahan bangsa tak
terkecuali masalah kabut asap, karena mereka adalah sosok individu yang
mempunyai jiwa optimis, berpikir maju, dan berintelektual.
Mahasiswa
sebagai salah satu pemuda produktif, merupakan harapan terbesar bagi masyarakat
sebagai penyambung lidah rakyat terutama sebagai perubahan di masyarakat (Agen
social of cahange). Sebagai salah satu potensi, mahasiswa sebagai bagian
dari kaum muda dalam tatanan masyarakat yang mau tidak mau pasti terlibat
langsung dalam tiap fenomena sosial, harus mampu mengimplementasikan kemampuan
keilmuannya dalam akselerasi perubahan keumatan ke arah berkeadaban. Keterlibatan
mahasiswa dalam setiap perubahan tatanan kenegaraan selama ini sudah menjadi
jargon dan pilar utama terjaminnya sebuah tatanan kenegaraan yang demokratis.
Romantisme politis antara mahasiswa dengan rakyat terlihat sebagai fungsinya
sebagai social control termasuk terhadap kebijakan menindas.
Melihat
kondisi tersebut, sudah saatnya peran Mahasiswa menunjukkan diri sebagai salah
satu potensi yang dapat diandalkan dalam upaya mengatasi permasalahan kabut
asap di Indonesia. Peran strategis mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat
sosial ditunggu untuk mengatasi permasalahan kabut asap di Indonesia. Kesatuan
visi, tekad, dan perjuangan Mahasiswa dalam mengatasi permasalahan kabut asap
di Indonesia, menjadi pondasi utama agar peran tersebut terealisasi untuk saat
ini atau nanti. Namun, untuk mewujudkan hal tersebut, sekali lagi, perlu
pemetaan, perumusan, dan penelaahan metode penerapan fungsi mahasiswa dalam
kancah epistemologi keumatan dalam mengatasi permasalahan kabut asap di
Indonesia.
Gerakan Mahasiswa Anti Asap Indonesia (GAMASI),
merupakan wadah /organsisasi nonprofit bagi Mahasiswa di Indonesia yang memiliki visi atau tekad yang kuat untuk
mengatasi permasalahan kabut asap di Indonesia. Melalui Gerakan Mahasiswa Anti Asap Indonesia (GAMASI), para
mahasiwa yang tergabung dalam organisasi ini akan dapat bertukar pikiran,
gagasan, ide yang nyata serta dapat menjalankan/memainkan peran stratetgisnya
untuk mengatasi permasalahan kabut asap di Indonesia.
Struktur
organisasi Gerakan Mahasiswa Anti Asap
Indonesia (GAMASI), sama dengan organisasi Kampus pada umumnya yang terdiri
dari Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan Divisi-divisinya. Adapun
untuk keanggotaan dari Gerakan Mahasiswa
Anti Asap Indonesia (GAMASI), bersifat terbuka untuk semua Mahasiswa Aktif di
PTN/PTS di seluruh Indonesia. Adapun Struktur Divisi-divisi Gerakan Mahasiswa Anti Asap Indonesia
(GAMASI),disertai dengan fungsinya, dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Divis Hukum
dan Kebijakan :
a.
Mengkaji proses Penegakan hukum yang terkait dengan
Hukum Lingkungan misalnya ntuk UU Perkebunan, UU Lingkungan Hidup, Perda, dll.
b.
Mengkaji tanggung jawab Pemerintah terkait kebakaran
hutan dan lahan di wilayah konsesinya.
c.
Mengkaji Perlindungan kawasan hutan konservasi gambut
tebal dari ancaman konversi menjadi perkebunan.
d.
Mengawasi dan Mengevaluasi Kebijakan Pemerintah di
masing-masing Dinas terkait dengan pemanfaatan lahan atau hutan. (misalnya
mengevaluasi pemberian izin perkebunan).
2. Divisi
Perencanaan Pembangunan dan Wilayah
a.
Membuat Peta lokasi wilayah yang rawan kebakaran hutan
dan lahan.
b.
Mengkaji faktor-faktor penyebab kabut asap dan
menyajikannya dalam forum diskusi (focus
group discusion)
c.
Mengunjungi daerah-daerah yang rawan kebakaran hutan
dan lahan (sifatnya kasuistis artinya mengunjungi daerah ketika terjadi
kebakaran hutan dan lahan).
d.
Membuat materi/kajian tentang dampak, kebijakan,
faktor penyebab, dan pentingya peran masyarakat dalam mengatasi permasalahan
kabut asap di Indonesia.
3. Divisi Humas
a.
Mengkampanyekan/mensosialisasikan kepada masyarakat
melalui media dan sekolah untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya kebakaran /
asap dan pentingnya menjaga lingkungan gambut.
b.
Memberi bantuan sosial kepada para masyarakat yang
terkena musibah dari bencana kabut asap.
4. Divisi
Informasi dan Komunikasi:
a.
Penyampaian informasi tentang dampak, kebijakan,
faktor penyebab, dan pentingya peran masyarakat dalam mengatasi permasalahan
kabut asap di Indonesia, kepada masyarakat luas melalui papan display, media massa, website, radio,
TV, dll.
b.
Mendorong para Pejabat Pengelola Informasi dan
Dokumrntasi (PPID) di lingkup Pemprov di
Seluruh Indonesia agar mampu dalam operasional dan menyiarkan informasi yang
terkait bencana (kebakaran hutan sebagai informasi yang sifat serta merta /
harus diumumkan).
Struktur
Divisi-divisi Gerakan Mahasiswa Anti
Asap Indonesia (GAMASI), yang disertai dengan fungsinya diatas, dapat lebih disempurnakan (sesuai dengan
kreativitas) ketika Gerakan Mahasiswa
Anti Asap Indonesia (GAMASI), betul-betul akan dibentuk atau diimplementasikan
oleh PTN/PTS di seluruh Indonesia. Begitu juga dengan, tujuan, visi dan misi
Gerakan Mahasiswa Anti Asap Indonesia
(GAMASI), disesuaikan dengan kreativitas dan keinginan dari para mahasiswa di
seluruh Indonesia yang ingin membentuk organisasi ini. Hal ini karena setiap
mahasiswa atau kelompok mahasiswa yang ingin mendirikan suatu organisasi
memiliki keinginan, tujuan, dan harapannya sendiri ketika ingin bergabung atau
mendirikan suatu organsiasi. Sehingga dalam penulisan ini, penulis tidak ingin
membatasi secara kongkrit struktur, visi, misi, dan tujuan organisasi dari
Gerakan Mahasiswa Anti Asap Indonesia
(GAMASI).
Besar harapan
penulis agar Gerakan Mahasiswa Anti Asap
Indonesia (GAMASI), betul-betul diterapkan, mengingat bahwa masalah kabut asap
di Indonesia merupakan salah satu permasalahan lingkungan hidup yang belum
memiliki penyelesaian jangka panjang dan cenderung terjadi setiap tahunnya.
Sehingga melalui Gerakan Mahasiswa Anti
Asap Indonesia (GAMASI), akan menjadi
wadah /organsisasi bagi Mahasiswa di Indonesia untuk menyatukan visi
atau tekad yang kuat untuk mengatasi permasalahan kabut asap di Indonesia. Selain
itu melalui Gerakan Mahasiswa Anti Asap
Indonesia (GAMASI), merupakan salah satu upaya tersebut adalah dengan
mengoptimalkan peran mahasiswa, yang akan memberikan efek dahsyat dalam
menyelesaikan masalah kabut asap di Indonesia. Hal ini karena mahasiswa
dianggap memiliki peran yang strategis dalam menyelesaikan permasalahan bangsa
tak terkecuali masalah kabut asap, karena mahasiswa adalah sosok individu yang
mempunyai jiwa optimis, berpikir maju, dan berintelektual.
REFERENSI:
Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) http: //www.bnpb.go.id/index.php/dampak-kebakaran,-hutan-dan-lahan,
diakses pada 15 November 2015 (Pukul 12.09 WITA).
Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) http: //www.lhk.kp3k.lhk.go.id/index.php/informasi-kawasan-hutan
/161-kawasan-lahan,-terbakar-dan-dampak,-perkembangan-dan-penanggulanganya,
diakses pada 15 November 2015 (Pukul 12.09 WITA).