Ekowisata Bahari Berbasis Masyarakat (Community Based Ecotourism Maritime) : Solusi Pemanfaatan Konservasi Pesisir dan Laut dalam Peningkatan Ekonomi Masyarakat Pesisir di Indonesia



Ekowisata Bahari Berbasis Masyarakat (Community Based  Ecotourism Maritime) :  Solusi Pemanfaatan Konservasi Pesisir dan Laut dalam Peningkatan Ekonomi Masyarakat Pesisir di Indonesia
Oleh:
Muh Ruslan Afandy
(Mahasiswa Fakultas Hukum UNHAS Makassar)
Sebagai Negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman hayati laut (marine biodiversity) yang tinggi, Indonesia memiliki potensi sumberdaya alam yang berlimpah, khususnya di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Indonesia memiliki ekosistem lengkap yang berperan sebagai habitat bagi ikan dan organisme lainnya mencari makan (feeding ground), bertelur (nesting ground) dan berpijah (Spawning ground). Sekitar 55% dari seluruh produksi perikanan yang ada berasal dari wilayah pesisir, khususnya dari ekosistem padang lamun, mangrove, terumbu karang, laguna dan estuaria. Lebih dari 2000 jenis ikan dan 500 jenis terumbu karang menjadikan Negara Indonesia terkenal sebagai kawasan pusat segitiga terumbu karang (The Coral Triangle Center ). Ekosistem terumbu karang selain memiliki fungsi bagi biota laut, juga memiliki fungsi sebagai penyerap karbon, pemecah gelombang laut, penghasil ikan yang sangat berguna bagi kesejahteraan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil secara khusus dan bagi seluruh rakyat Indonesia secara umum. (Dirjen KKP. 2013).
Dilihat dari letak geografis, Indonesia juga merupakan Negara tropis dengan ekosistem yang lengkap dan biodiversitas yang sangat tinggi. Namun sangat disayangkan, akibat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan dan berlebih (overfishing), pembuangan limbah dan penambangan pasir laut serta aktifitas manusia yang merusak lainnya telah mengancam keberlanjutan sumberdaya ekosistem, khususnya ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil. Disamping itu, tingkat pola penangkapan subsisten, sistem rantai penjualan hasil tangkapan yang kurang berpihak pada nelayan dan pendidikan yang rendah membuat kehidupan masyarakat pesisir masih belum menggembirakan. Jumlah nelayan miskin di Indonesia pada tahun 2011 mencapai 7,87 juta orang yang berasal dari sekitar 10.600 desa nelayan yang terdapat di kawasan pesisir pada berbagai daerah di tanah air atau 25,14 persen dari total penduduk miskin nasional yang mencapai 31,02 juta orang. (Dirjen KKP. 2013)
Tidak berlebihan rasanya apabila wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil diumpamakan sebagai salah satu jantung perekonomian sebagian masyarakat Indonesia. Di wilayah inilah sebagian masyarakat kita bermukim sekaligus bermata pencaharian sehingga denyut kehidupan Indonesia sesungguhnya bisa kita rasakan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Menjawab berbagai tantangan tersebut, salah satu program pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan dilakukan melalui konservasi yang bertujuan melindungi, melestarikan dan mengelola secara berkelanjutan sumberdaya ikan, meliputi ekosistem, jenis dan genetik ikan secara lestari dan berkelanjutan. Salah satu upaya konservasi ekosistem adalah dengan mengembangkan dan menetapkan kawasan konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil yang dikelola dengan sistem zonasi, diantaranya zona perikanan berkelanjutan yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk budidaya dan penangkapan ikan ramah lingkungan serta zona pemanfaatan untuk kegiatan wisata bahari. Program ini tentunya sejalan dengan penerapan prinsip Blue Economy untuk mendukung industrialisasi kelautan dan perikanan.
Pariwisata bahari nasional sebagai salah satu bentuk penerapan prinsip Blue Economy untuk mendukung industrialisasi kelautan dan perikanan, selama ini umumnya dikomersilkan dengan cara konvensional. Kesadaran tentang pelestarian lingkungan juga masih minim, sehingga minimalisasi dampak kerusakan akibat kehadiran para pengunjung objek wisata juga belum terpikirkan. yang dirasakan masyarakat baru sebatas kegembiraan karena bisa melihat ramainya orang yang berkunjung ke tempat mereka. Sementara dampak secara ekonomi masih jauh dari rasa yang menggembirakan. Selama ini keuntungan lebih banyak diperoleh oleh pihak swasta yang mengelola usaha traveling serta pihak dinas pariwisata dan imigrasi yang menangani izin pembukaan objek wisata dan retribusi serta keluar masuknya turis dari mancanegara.
Dewasa ini karena kesadaran berbagai lapisan masyarakat pemerhati kelautan atau pelestarian alam semakin tinggi maka dirasakan bahwa pengelolaan wisata bahari perlu pengelolaan khusus yang lebih baik. Ekowisata kemudian menjadi solusi yang banyak diperbincangkan. Para pelaku dan pakar di bidang ekowisata sepakat untuk menekankan bahwa pola ekowisata sebaiknya meminimalkan dampak yang negatif terhadap lingkungan dan budaya setempat dan mampu meningkatkan pendapatan ekonomi bagi masyarakat setempat dan nilai konservasi.
Pembahasan tentang ekowisata menjadi hal yang menarik untuk dikaji, mengingat bahwa kelestarian alam dan entitas yang melekat padanya perlu diselamatkan (dijaga dari kepunahan). Hal itu menjadi titik tolak dibuatnya artikel ini dengan tujuan menjelaskan tentang bagaimana ekowisata bahari berbasis masyarakat menjadi solusi pemanfaatan konservasi pesisir dan laut dalam meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat pesisir. Artikel ini juga diharapkan akan menyamakan persepsi para pengembang pariwisata di taman nasional dan taman wisata alam. Dan bisa menjadi acuan dalam memanfaatkan potensi kawasan konservasi secara lestari
Landasan Pemikiran
Pembangunan wilayah pesisir dan laut juga menghendaki adanya kerjasama dari para pihak atau stakeholders pembangunan di kawasan pesisir dan laut, yaitu pemerintah pusat dan daerah, masyarakat pesisir, pengusaha dan lembaga swadaya masyarakat. Para pihak yang memiliki kepentingan terhadap pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan pesisir dan laut harus menyusun perencanaan pengelolaan terpadu yang dapat mengakomodir segenap kepentingan mereka dengan menggunakan model pendekatan dua arah yaitu pendekatan top down dan bottom up. Pembangunan wilayah pesisir juga menghendaki adanya keterpaduan pendekatan sebab pengelolaan wilayah pesisisr dan laut memiliki keunikan wilayah dan beragamnya sumberdaya yang mengisyaratkan pentingnya pengelolaan wilayah tersebut secara terpadu.
Empat alasan yang mendasari pentingnya pengelolaan secara terpadu yaitu: Pertama secara empiris, terdapat keterkaitan ekologis baik antar ekosistem di dalam kawasan pesisir maupun antara kawasan peisisir dengan lahan atas dan laut lepas. Dengan demikian perubahan yang terjadi pada suatu ekosistem pesisir, misalnya hutan mangrove, cepat atau lambat akan mempengaruhi ekosistem lainnya. Demikian pula halnya jika pengelolaan kegiatan pembangunan misalnya industri, pertanian, dan pemukiman, di lahan atas suatu daerah aliran sungai tidak dilakukan secara arif atau berwawasan lingkungan, maka dampak negatifnya akan merusak tanaman dan fungsi ekologis kawasan pesisir.
Kedua, dalam satu kawasan pesisir biasanya terdapat lebih dari satu jenis sumberdaya alamiah, sumberdaya buatan dan jasa-jasa lingkungan yang dapat dikembangkan untuk kepentingan pembangunan. Ketiga, dalam suatu kawasan pesisir biasanya terdapat lebih dari suatu kelompok masyarakat yang memiliki kepeterampilan atau keahlian dan kesenangan bekerja yang berbeda seperti petani sawah, nelayan, petani tambak, petani rumput laut, pendamping pariwisata, industri dan kerajinan rumah tangga dan sebagainya. Keempat, baik secara ekologis maupun secara ekonomis, pemanfaatan suatu kawasan pesisir secara monokultur atau single use sangat rentan terhadap perubahan internal maupun eksternal yang menjurus pada kegagalan usaha. Kelima, kawasan pesisir merupakan sumberdaya milik bersama yang dapat digunakan oleh siapa saja dimana setiap pengguna sumberdaya pesisir biasanya berprinsip memaksimalkan keuntungan. Hal ini menyebabkan kawasan pesisir rawan terkena masalah pencemaran, over-eksploitasi sumberdaya alam dan konflik pemanfaatan ruang. (Ambo Tuwo, 2011)  
Prinsip Pengembangan Ekowisata Pesisir dan Laut
Pengembangan Ekowisata dapat menjamin keutuhan dan kelestarian ekosistem pesisir dan laut. Hal ini didukung oleh keinginan para pecinta Ekowisata yang memang menghendaki syarat kualitas dan keutuhan ekosistem. Oleh karenanya ada beberapa prinsip pengembangan Ekowisata yang harus dipenuhi yaitu : pertama, mencegah dan menanggulangi dampak dari aktivitas wisatawan terhadap bentang alam dan budaya masyarakat lokal. Pencegahan dan penanggulangan dampak harus dapat disesuaikan dengan sifat dan karakter bentang alam dan budaya masyarakat lokal. Kedua, mendidik atau menyadarkan wisatawan dan masyarakat lokal akan pentingnya konservasi. Ketiga, mengatur agar kawasan yang digunakan untuk ekowisata dan manajemen pengelola kawasan pelestarian dapat menerima langsung penghasilan atau pendapatan. Retribusi dan pajak konservasi dapat digunakan secara langsung untuk membina, melestarikan dan meningkatan kualitas kawasan pelestarian.
Keempat, masyarakat dilibatkan secara aktif dalam perencanaan dan pengembangan ekowisata. Kelima, keuntungan ekonomi yang diperoleh secara nyata harus dapat mendorong masyarakat untuk menjaga dan melestarikan kawasan pesisir dan laut. Keenam, semua upaya pengembangan, termasuk pengembangan fasilitas dan utilitas, harus tetap menjaga keharmonisan dengan alam. Bila terdapat ketidakharmonisan dengan alam, hal itu akan merusak produk Ekowisata yang ada. Ketujuh, pembatasan pemenuhan permintaan, karena umumnya daya dukung ekosistem secara alamiah lebih rendah daripada daya dukung ekosistem buatan. Kedelapan, apabila suautu kawasan pelestarian dikembangkan untuk Ekowisata, maka devisa dan belanja wisatawan dialokasikan secara proporsional dan adil untuk pemerintah pusat dan daerah, (Ambo Tuwo, 2011).
Pengembangan Ekowisata Bahari Berbasis Masyarakat (communitybased ecotourism maritime)
Apa yang dimaksud dengan ekowisata bahari  berbasis masyarakat dan mengapa Ekowisata bahari harus berbasis masyarakat? Pola ekowisata bahari berbasis masyarakat adalah pola pengembangan ekowisata yang mendukung dan memungkinkan keterlibatan penuh oleh masyarakat setempat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan usaha ekowisata bahari dan segala keuntungan yang diperoleh. Ekowisata bahari berbasis masyarakat merupakan usaha ekowisata yang memprioritaskan peran aktif masyarakat. Masyarakat setempatlah yang memiliki pengetahuan tentang alam serta budaya yang menjadi potensi dan nilai jual sebagai daya tarik wisata, sehingga pelibatan masyarakat menjadi mutlak. Pelibatan masyarakat dalam pengelolaan Ekowisata berarti mengakui hak masyarakat lokal dalam mengelola kegiatan wisata di kawasan yang mereka miliki secara adat ataupun sebagai pengelola. Model ini juga akan mencegah terjadinya kecemburuan sosial dan adanya kemungkinan upaya masyarakat melakukan aksi destruktif terhadap objek wisata atau sarana yang ada pada objek wisata tersebut.
Dampak pengelolaan yang melibatkan masyarakat adalah menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat setempat, dan mengurangi kemiskinan, di mana penghasilan ekowisata adalah dari jasa-jasa wisata untuk pengunjung seperti ongkos transportasi; penginapan; menjual souvenir, serta biaya buat pemandu wisata dan lain sebagainya. Ada kemungkinan apa yang dirasakan oleh wisatawan setelah menikmati keindahan alam dan budaya akan sulit dia gambarkan dengan kata-kata. Sehingga rasa kagum dan senang yang dirasakannya ingin segera diceritakannya kepada semua orang-orang dekatnya, bahkan kepada semua orang dibelahan dunia. Maka segera mereka mencari apa saja barang yang bisa menjadi tanda tentang tempat indah tersebut. Bagi yang remaja mungkin akan segera mencari kartu pos yang berisi gambar lokasi, sehingga dari kartu pos itu saja sudah melibatkan masyarakat untuk jasa pos, percetakan, dan penjual. Remaja perempuan dan ibu-ibu juga akan berlomba mencari tas, pakaian, dan perhiasan seperti cincin, kalung, gelang bermotif khas wisata setempat. Remaja lelaki dan bapak-bapak akan mencari topi atau kaos bergambar lokasi wisata. Hal-hal itu saja sudah melibatkan masyarakat dalam jumlah banyak.
Belum lagi, setelah berbelanja, wisatawan cenderung segera mencari tempat melepas haus dan lapar. Maka ekowisata ini pun akan menghidupkan industri dan jasa makanan dan minuman. Home stay, hotel, penginapan, dan restoran pasti tidak ketinggalan akan kebagian rezeki besar dari adanya ekowisata ini. Sehingga jika semua aktivitas wisatawan dinilai dengan uang maka ekowisata di suatu objek wisata akan memberi kontribusi yang sangat besar terhadap perekonomian masyarakat setempat.
Adanya pola ekowisata berbasis masyarakat bukan berarti bahwa masyarakat akan menjalankan usaha ekowisata sendiri, tetapi secara simultan dan terintegrasi menjalankannya bersama segenap penggiat wisata di tempat itu. Mulai dari level komunitas, masyarakat, pemerintah, dunia usaha dan organisasi non pemerintah. Implementasi ekowisata perlu dipandang sebagai bagian dari perencanaan pembangunan terpadu yang dilakukan disuatu daerah. Sehingga pelibatan para pihak terkait diharapkan membangun suatu jaringan dan menjalankan suatu kemitraan yang baik sesuai peran dan keahlian masing-masing.
Ekowisata membawa dampak positif terhadap pelestarian lingkungan dan budaya asli setempat yang pada akhirnya diharapkan akan mampu menumbuhkan jati diri dan rasa bangga antar penduduk setempat yang tumbuh akibat peningkatan kegiatan ekowisata.Di kawasan ekowisata juga terdapat kawasan three in one, yaitu berbuat satu dapat tiga manfaat. Jika pemerintah dan masayarakat dapat mengembangkan Ekowisata pesisir dan laut, maka akan diperolah tiga manfaat sekaligus, yaitu kelestarian sumberdaya pesisir dan laut terjamin, kesejahteraan masyarakat meningkat, dan satu bonus tidak perlu mengeluarkan biaya konservasi sumberdaya pesisir dan laut, karena kelestarian sumberdaya akan terjaga dengan sendirinya jika dikelola dengan baik.
Ekowisata dan konservasi
Sejak 1970an, organisasi konservasi mulai melihat ekowisata sebagai alternatif ekonomi yang berbasis konservasi karena tidak merusak alam ataupun tidak “ekstraktif” dengan berdampak negatif terhadap lingkungan seperti penebangan dan pertambangan.Ekowisata juga dianggap sejenis usaha yang berkelanjutan secara ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar kawasan konservasi. Namun agar ekowisata tetap berkelanjutan, perlu tercipta kondisi yang memungkinkan di mana masyarakat diberi wewenang untuk mengambil keputusan dalam pengelolaan usaha ekowisata, mengatur arus dan jumlah wisatawan, dan mengembangkan ekowisata sesuai visi dan harapan masyarakat untuk masa depan. Ekowisata dihargai dan dkembangkan sebagai salah satu program usaha yang sekaligus bisa menjadi strategi konservasi dan dapat membuka alternatif ekonomi bagi masyarakat. Dengan pola ekowisata, masyarakat dapat memanfaatkan keindahan alam yang masih utuh, budaya, dan sejarah setempat tanpa merusak atau menjual isinya.
Pelaksanaan Ekowisata Bahari Berbasis Masyarakat (communitybased ecotourism maritime)
Kegiatan wisata saat ini telah menjadi kebutuhan primer, yang dalam implementasinya kembali disesuaikan dengan kekuatan ekonomi masing-masing. Di Indonesia isu wisata bahari dalam kurun waktu 5 tahun ini meningkat seiring dengan meningkatnya isu terumbu karang dan potensi laut lainnya. Hal ini berdampak pada meningkatnya jumlah wisatawan. Hal ini dikhawatirkan akan melebihi daya dukung lingkungan. Dengan meningkatnya wisatawan maka jumlah sampah juga akan semakin meningkat dan jumlah air semakin terbatas.  Selain itu, penambangan pasir dan terumbu untuk pembangunan penginapan juga terjadi. Sehingga dengan demikian, sebuah rencana mejadikan suatu kawasan wisata menjadi Ekowisata Bahari harus terprogram.
Sebagai sebuah percontohan pengembangan ekowisata bahari berbasis masyarakat adalah ekowisata bahari di Indonesia. Secara keseluruhan program ekowisata bahari yang digagas penulis melewati empat tahap program yakni:
1.      Tahap 1. Perencanaan dan pembentukan kelompok.
Formulasi penentuan ekowisata bahari berbasis masyarakat dan pembentukan kelompok dirumuskan pada tahap ini melalui lokakarya dan diskusi.
2.      Tahap 2. Pengembangan ekowisata berbasis masyarakat.
Pada tahap ini ekowisata bahari diperkenalkan kepada pelaku-pelaku usaha terkait wisata, yaitu pemilik penginapan, penyedia jasa catering, penyedia kapal dan para pemandu lainnya melalui sosialisasi dan pelatihan. Selain itu pada tahap ini juga diupayakan adaya dukungan pemerintah untuk keberlanjutan pengembangan ekowisata bahari berbasis masyarakat di objek wisata dimaksud.
3.      Tahap 3. Penguatan kapasitas aggota kelompok.
Berbagai pelatihan untuk meningkatkan kapasitas terkait kegiatan ekowisata untuk anggota kelompok diberikan.

4.      Tahap 4. Pengembangan kemandirian organisasi.
Pada tahap ini kemandirian organisasi dikembangkan dan diperkuat melalui serangkaian pelatihan organisasi, sosialisasi kelompok kepada pemerintah dan kelompok masyarakat lainnya, mempromosikan kelompok kepada pasar, serta meningkatkan peran organisasi dalam pengelolaan objek wisata, (Budi Santoso dkk, 2010).

Kerjasama dan Kemitraan dalam Ekowisata Bahari
Program pengembangan ekowisata bahari tidak akan berjalan secara efektif jika tidak ada kerjasama dengan berbagai pihak. Oleh karena itu segenap pihak yang memiliki keterkaitan erat dengan keberhasilan ekowisata bahari harus dilibatkan.
1.      Pemerintah, meliputi: Suku Dinas Budaya dan Pariwisata, Suku Dinas Perikanan, DISORDA, TNKpS, dan KESMAS untuk penyedia fasilitas dan infrastruktur, dukungan kebijakan, dan untuk pelestarian ekosistem yang ada pada objek wisata.
2.      Universitas atau Perguruan Tinggi apa saja yang ada di sekitar atau dekat dengan objek wisata. Bisa juga Balai Diklat yang melatih tentang konservasi dan ekowisata. Tujuannya untuk penyediaan narasumber/pelatih peningkatan kapasitas kelompok dan pelestarian ekosistem yang ada pada objek wisata.
3.      Kelompok masyarakat.  Kelompok nelayan atau karang taruna apa saja yang ada pada masyarakat. Tujuannya untuk melakukan pengamatan ekosistem pada objek secara bersama dan berkala.
4.      Event organizer. Untuk membantu membangun pasar objek wisata (promosi dan lain sebagainya).
5.      LSM. Untuk penyediaan narasumber/pelatih peningkatan kapasitas kelompok.

Dampak Umum Pengembangan Ekowisata Bahari Berbasis Masyarakat (communitybased ecotourism maritime)
Tidak sedikit manfaat yang telah diperoleh dari kegiatan Ekowisata bahari, namun tidak sedikit pula kerugian yang ditimbulkannya. Dampak positif yang dapat dirasakan dari kegiatan Ekowisata bahari dapat berupa : 1) peningkatan penghasilan dan devisa Negara; 2) tersedianya kesempatan kerja baru; 3) berkembangnya usaha-usaha baru; 4) meningkatnya kesadaran masyarakat an wisatawan tentang pentingnya konservasi sumberdaya alam; 5) peningkatan partisipasi masyarakat; dan 6) meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal.
Manfaat lain dari kegiatan ekowisata bahari  dapat berupa: 1) meningkatnya nilai ekonomi sumberdaya ekosistem; 2) Meningkatnya upaya pelestarian lingkungan; 3) meningkatnya keuntungan langsung dan tidak langsung dari para stakeholders; 4) terbangunnya konstituensi untuk konservasi secara lokal, nasional dan internasional; 5) Meningkatnya promosi penggunaan sumberdaya alam secara berkelanjutan; dan 6) Berkurangnya ancaman terhadap keanekaragaman hayati yang ada di objek wisata. Terlepas dari dampak positif yang diperoleh, beberapa hasil kajian menunjukkan bahwa pengelolaan Ekowisata bahari yang kurang baik dapat melupakan kepentingan ekonomi masyarakat lokal.
Rekomendasi
Ekowisata  bahari berbasis masyarakat adalah konsep yang paling tepat untuk pengelolaan suatu objek wisata yang sekaligus memiliki fungsi ekonomis bagi masyarakat dan fungsi konservasi untuk sumberdaya bahari  yang ada di dalamnya. Secara umum, bila sebuah program ekowisata bahari ingin diterapkan di suatu objek atau kawasan wisata, maka ada beberap rekomendasai yang bisa dilaksanakan para pengambil kebijakan, yaitu :
1.      Melakukan kajian apakah kegiatan ekowisata bahari memang dibutuhkan di lokasi tersebut.
2.      Mengkaji apakah masyarakat secara sadar tertarik terhadap kegiatan ekowisata bahari, sebab pelibatan masayarakat secara aktif adalah kunci keberhasilan program.
3.      Mengidentifikasi apakah fasilitas pendukung kegiatan ekowisata bahari tersedia memadai.
Selanjutnya, menurut Ambo Tuwo (2011), menyangkut kelangsungan pertumbuhan kawasan ekowisata bahari  dan juga tentunya akan menyangkut kelangsungan para pelaku wisata yang ada dalam kawasan tersebut, hal yang perlu diperhatikan adalah: jumlah wisatawan; karakteristik wisatawan dengan berbagai keinginan untuk berwisata; tipe dari aktivitas ekowisata yang dapat ditawarkan pada sebuah kawasan ekowisata; struktur masyarakat yang berada pada kawasan ekowisata; kondisi lingkungan sekitar yang berada pada kawasan tersebut; kemampuan masyarakat untuk beradatasi terhadap perekembangan kepariwisataan, sehingga diperlukan sebuah analisa dampak wisata pada setiap objek dan daya tarik wisata.

Referensi
Ambo Tuwo. 2011. Pengelolaan Ekowisata Pesisir dan Laut. Brilian Internasional, Surabaya
Budi Santoso dkk. 2010. Pembelajaran Pengelolaan Terumbu Karang di Kepulauan Seribu 2002-2009 Melalui Pendekatan Pengelolaan Perikanan Ornamental, Pendidikan dan Pelatihan, dan Ekowisata Berbasis Masyarakat. Yayasan Terangi, Jakarta.
Dirjen Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau kecil. Kawasan Konservasi Perairan dan Pulau-pulau Kecil. http: //www.kkji.kp3k.kkp.go.id/index.php/informasi-konservasi/161-kawasan-konservasi-perairan,-pesisir-dan-pulau-pulau-kecil-paradigma,-perkembangan-dan-pengelolaannya, diakses pada 15 November 2015 (Pukul 12.09 WITA)
Putra Alam. 2012. Ekowisata. http://id.wikipedia.org diakses pada 15 November 2015 (Pukul 8.00 WITA)
WWF-Indonesia. 2009. Prinsip dan kriteria Ekowisata Berbasis Masyarakat. Kerjasama Direktorat Produk Pariwisata Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan WWF-Indonesia



Postingan Populer