Budaya Siri’ Na Pesse’ dalam Realitas Kekinian



Budaya Siri’ Na Pesse dalam Realitas Kekinian

Oleh:

Muh Ruslan Afandy


Siri’ na pesse’, mendengar kata tersebut sudah barang tentu tidak asing lagi bagi masyarakat Bugis. Betapa tidak, dua kata ini amat diagungkan, disakralkan, dikeramatkan dan sudah mendarah daging dalam kultur masyarakat Bugis. Lalu apa itu siri’ na pesse’?. Siri’ sendiri dapat diartikan “malu” yang dalam implementasinya diarahkan kedalam diri/batin seseorang (masyarakat Bugis). Mengutip pepatah Bugis yang mengatakan bahwa siri’mi narituo yang artinya  adalah bahwa “kita dapat bertahan hidup karena adanya perasaan malu”. Oleh karena itu dalam pandangan masyarakat Bugis orang dianggap hidup ketika didalam dirinya ada rasa malu (siri’) begitu pula sebaliknya jika seseorang  di dalam dirinya sudah tidak ada rasa malu (siri’) dianggap sebagai orang mati yang hidup atau yang lebih dikenal dengan istilah mate siri’. Sedangkan pesse’ dapat diartikan “pedih” atau perasaan (pernyataan) solidaritas yang terbit dari dalam kalbu yang dapat merangsang kepada suatu tindakan. Ini merupakan etos (sikap hidup) masyarakat Bugis sebagai pernyataan moralnya yang dalam implementasinya diarahkan keluar dari diri seseorang (masyarakat Bugis).
Secara umum terdapat nilai atau konsep dasar budaya siri’ na pesse’ yaitu, getteng (berpegang teguh pada pendirian atau memiliki komitmen yang tinggi), lempu (memiliki kejujuran atau dapat dipercaya), acca/macca (pintar dan mudah memahami sesuatu), dan  warani (memiliki keberanian yang tinggi dalam melakukan sesuatu sesuai dengan prinsip kebenaran dan kejujuran). Apabila setiap masyarakat Bugis dapat menerapkan keempat dari kerangka tersebut, maka ia dianggap sebagai manusia seutuhnya. Nilai atau konsep dasar siri’ na pesse’  menjadi pola-pola tingkah laku masyarakat Bugis dalam berpikir, merasa, bertindak, dan melaksanakan aktivitas dalam membangun dirinya menjadi seorang manusia. Juga dalam hubungan sesama manusia dalam masyarakat, antara siri’ dan pesse’ harus saling terjalin dalam hubungan kehidupannya, saling mengisi, dan tidak dapat dipisahkan yang satu sama lain. Sehingga  siri’ dan pesse’ diharapkan dapat mengarahkan tingkah laku masyarakat Bugis dalam pergaulan sehari-hari sebagai “ motor “ penggerak dalam memanifestasikan pola-pola kebudayaan dan sistem sosialnya.
Melihat bahwa betapa budaya siri’ na pesse’ menjadi sumber inspirasi  dan pedoman dalam menempuh kehidupan masyarakat Bugis, lalu timbul pertanyaan apakah nilai atau konsep dasar siri’ na pesse’ masih dipegang teguh di Era serba modern seperti sekarang ini?. Fakta berbicara bahwa sebagian masyarakat Bugis dalam kehidupannya tidak lagi sepenuhnya memegang nilai-nilai yang terkandung dalam budaya siri’ na pesse’.  Budaya siri’ na pesse’ kini seakan-akan ditenggelamkan dengan budaya barat yang merajalela dimana- mana, masyarakat, pemuda -pemudi Bugis seakan terlena dengan hingar binar budaya barat dan bangga akan entitas kebarat-baratannya (western). Hal ini bisa dilihat dari perilaku, cara berpakaian, pola pikir, dan hubungan sosial mereka yang jika dipandang dari sudut budaya siri’ na pesse’ mereka dianggap de’ni gaga siri’na (tak ada lagi malunya sebagai manusia). Bahkan lebih dari itu  mereka dianggap sirupai olo’ kolo’e (seperti binatang).
Berangkat dari realitas sekarang yang terjadi, timbul pertanyaan yang patut kita telisik lebih lanjut, yakni kemana masyarakat Bugis yang katanya getteng (berpendirian teguh) tapi malah meniru budaya barat?, kemana masyarakat Bugis yang katanya lempu (jujur) tapi malah pandai bersilang mulut?, kemana masyarakat Bugis yang katanya macca (pintar) tapi malah dibodohi zaman?, dan kemanapula masyarakat Bugis yang katanya warani (berani) tapi malah diam dan bungkam akan kekangan zaman?. Mungkin terlalu naif lagi sadis jika penulis katakan demikian, mungkin pula terlalu  pragmatis lagi idealis jika penulis katakan demikian, namun inilah realitanya!. Budaya bugis khususnya budaya siri’na pesse seakan digerus oleh zaman , nilai-nilai budaya siri’na pesse  yang didalamnya terpatri sendi-sendi kehidupan seakan diperkosa oleh syahwat modernitas dan bukan tidak mungkin budaya siri’na pesse lambat laun akan hilang dan punah ditelan peradaban yang serba modern.
Oleh karenanya sebagai orang Bugis, diera modernitas sekarang ini marilah kita menjaga dan melestarikan budaya luhur yang telah diwariskan oleh para leluhur kita, marilah kita menjadi pionir dalam merealisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya siri’na pesse, di kehidupan keseharian kita. Dan sebagai pemuda yang berjiwa optimis, berpikir maju, dan berintelektual, marilah kita rapatkan barisan  untuk merealisasikan peran kita sebagai agent of change dan agent of social control dalam menjaga dan melestarikan budaya siri’na pesse  sebagai falsafah hidup masyarakat Bugis. Sekian.
Yang Muda....Yang Cinta Budaya
Salam Perubahan...Salam Mahasiswa...Hidup Mahasiswa.




Postingan Populer